Kesalahan Umum Investor Saat Membeli Saham Online. Di akhir 2025 ini, investasi saham online semakin mudah diakses berkat platform digital, tapi justru bikin banyak investor pemula jatuh ke jebakan klasik. Tren tahun ini tunjukkan jumlah investor ritel naik tajam, tapi sering diikuti kerugian karena keputusan impulsif atau kurang riset. Kesalahan seperti ikut tren tanpa analisis atau overtrading jadi penyebab utama portofolio merah. Memahami error umum ini penting agar investasi jangka panjang lebih aman dan menguntungkan, apalagi di pasar yang volatil seperti sekarang. BERITA TERKINI
Tidak Melakukan Riset dan Analisis Mendalam: Kesalahan Umum Investor Saat Membeli Saham Online
Banyak investor langsung beli saham karena rekomendasi teman, influencer, atau berita viral tanpa cek fundamental perusahaan. Ini sering berujung rugi karena saham overvalued atau prospek buruk jangka panjang. Analisis fundamental seperti laporan keuangan, rasio PER/PBV, dan prospek sektor krusial untuk tahu apakah harga wajar. Analisis teknikal juga bantu timing masuk-keluar. Di era online 2025, info melimpah tapi sering misleading—hindari FOMO, luangkan waktu riset minimal baca laporan tahunan dan berita resmi sebelum transaksi.
Trading Berlebihan dan Biaya Tersembunyi: Kesalahan Umum Investor Saat Membeli Saham Online
Overtrading atau jual-beli sering karena euforia pasar naik jadi kesalahan fatal. Setiap transaksi kena fee broker, pajak, dan spread yang numpuk makan profit. Studi tunjukkan trader aktif sering underperform pasar karena biaya tinggi dan keputusan emosional. Di multiplayer online, godaan chase tren harian kuat, tapi strategi buy and hold jangka panjang lebih untung. Batasi transaksi, fokus portofolio diversifikasi, dan gunakan dana idle saja—hindari pakai margin atau pinjam jika belum pro.
Keputusan Emosional dan Kurang Diversifikasi
Emosi seperti greed saat pasar naik atau fear saat turun sering picu panic selling atau average down berlebih. Ini buat rugi permanen karena jual murah dan beli mahal. Kurang diversifikasi—all in satu saham atau sektor—tambah risiko; jika sektor itu crash, portofolio anjlok. Di 2025, tren ESG dan tech naik, tapi tetap sebarkan ke berbagai sektor seperti konsumsi, bank, dan komoditas. Tetap tenang dengan rencana investasi jelas: tentukan target profit/loss sebelum masuk, dan diversifikasi minimal 10-15 saham untuk kurangi volatilitas.
Kesimpulan
Kesalahan umum investor saham online di akhir 2025 seperti kurang riset, overtrading, dan trading emosional sering akibat euforia kemudahan platform digital. Hindari dengan edukasi mandiri, strategi jangka panjang, diversifikasi, dan disiplin emosi—investasi sukses butuh kesabaran, bukan keberuntungan. Pasar Indonesia potensi naik di 2026 dengan pemulihan ekonomi, tapi hanya investor bijak yang untung maksimal. Mulai sekarang evaluasi portofolio, belajar dari error, dan investasi jadi lebih aman serta menguntungkan untuk masa depan finansial lebih cerah.